Custom Search

Senin, 24 Maret 2008

Nasehat Para Pengabdi

Berserah Pada Takdir dan Anugerah

(Bagian Ke Tiga)

Menggebunya semangat tak akan mampu menerobos benteng takdir.

......... Tak ada guna! Betapa pun banyak energi yang engkau curahkan untuk sebuah niat atau tujuan, tetap saja itu tak akan tergapai jika tak sesuai dengan keputusan Tuhan. Engkau tak dapat memenangkan kehendakmu diatas kehendak-Nya, yang telah mengatur alam yang kasat mata dan yang tak kasat mata, serta menetakan takdir kita semua. Yang harus dilakukan oleh salik yang bersungguh-sungguh adalah memfokuskan niat, perhatian, dan perjuangan pada Allah, yang ada di balik semua wujud dan kejadian. (Ibn `Atha`illah dalam AL HIKAM)

Ketakpastian

Ketakpastian

Aku melihat, penglihatan mu itu tak pasti! jawabnya. Aku mendengar, pendengaran mu juga tak pasti. Aku merasa, perasaan mu pun juga tak pasti.

Kau lihat, jawabannya masih seperti dulu. Hingga aku berkata, kenapa kau bilang begitu? Seakan yang ku alami semuanya tak pasti. Ia terdiam dan terus melangkah meninggalkan sepuncuk tanya..

Aku, aku berhenti pada ketakpastian ini. Aku mencoba pejamkan mata, saat itu juga ia kembali dan melempari ku dengan komentarnya yang pedas, sepanas merica ku rasa.

Jangan bertindak bodoh ungkapnya. Simpel tapi aku tak mengerti bahkan ku coba tuk menutup telinga dan akupun juga mencoba untuk tak merasa.

Sementara komentarnya terus saja membayang-bayangi ku hingga tersisalah tanya, apakah dengan begini kepastian itu dapat ku temui?

By. Wong Alit

Pesan dalam Pencarian

Pesan dalam Pencarian

Cari, carilah hingga kelelahan menghampiri. Jangan, janganlah berputus asa apa yang didapat coba nikmati walau apa yang dicari belum bersua.

Terus, teruslah dalam lingkaran berpegang eratlah dengan sesama biar tak pernah merasa sendirian. Berjanjilah, berjanjilah tuk selalu ada.

Tanam, tanamkanlah benih-benih kesabaran dihamparan tanah yang hitam legam seraya hujanilah ia dengan keiklasan...... agar, agar disana Aroma wangi bersemayam.

By: Wong Alit

Terlelaplah Cerita Nenek

Terlelaplah Cerita Nenek Bercerita nenek menjelang tidurnya. Tentang kegigihan perjuangan kakek dalam menggapai kemerdekaan, di panasnya peluru yang menghujam, di selimuti hutan belantara dan rawa-rawa. Rasa cemas telah menjadi teman, mengalir mengikuti derasnya cita-cita, menuntun hingga griliya tiba. Bambu runcing siap mengoyak dada, atau Pengasingan menjadi imbalan buat mereka. Begitukah? tanya dalam hati, Nasib para pahlawan negeri ini. Demi anak cucu Bangsa Ajal menanti di pengasingan. Terlelaplah segala cerita nenek seiring dirinya terlelap dan bermimpi. Kalau korupsi itu nikmat, biar nantinya masyarakat menjadi susah dan dirinya bahagia. Penyelewengan akan kekayaan negara merupakan misi utama sejak dirinya dilantik. Tak terpikirkan olehnya anak cucu bangsa. Bahkan kesatuan negara ini tak digubrisnya. Pulau-pulau, satu persatu mulai berpindah tangan. Parahnya, rakyat dibuat saling berperang. Terbangun dirinya, nenek telah tiada. Didapatinya sehelai rambut telah memutih. Terselip pada spray bermotif bunga kamboja......... bercucurlah dengan deras air mata. By. Wong Alit

Pena Dan Rokok

Pena Dan Rokok

Seumpama pena yang menggores diatas kertas, merajut cerita dalam gengaman sang penulis. Seumpama api yang menyalakan sebatang rokok, mereka bertemu karena kehendak sang perokok.

Sang penulis tak bertindak, pena pun berdiri dalam kesendirian dan kertas menanti diatas meja. Akhirnya mereka saling berdiam diri.

Begitupun dengan sang perokok. Meninggalkan rokoknya tuk sesaat sementara api masih berada dalam persembunyiannya dan mereka berusaha untuk saling tak mengerti.

Hubungan ini merupakan suatu kerapuhan jika mereka saling melupakan sang penulis atau perokok.

Pena merasa berkuasa atas kertas, begitupun sebaliknya atau rokok yang merasa berkuasa atas api.

By. Wong alit

Kamis, 20 Maret 2008

Nasib Porong di atas luapan Lumpur Lapindo

Nasib Porong di atas luapan Lumpur Lapindo

Dari porong, jejak-jejak langkah itu berawal. Setiap hentakan langkah bernadakan permohonan yang diperuntukkan kepada mu, Jakarta. Jakarta, jangan kau tolak kehadiran kami, kami kemari tidak untuk menyusahkan mu tetapi kesusahan itu yang menghampiri.

Dari porong, lumpur Lapindo meluap. Mengikis habis kehidupan ku, ucap si porong.

Kini luapan lumpur itu semakin menjadi, entah kapan musibah ini berhenti? Tanah porong pun tak terlihat lagi.

Dari porong, lumpur Lapindo meluap. Menenggelamkan segala cita-cita ku, ucap si porong.

Jakarta, kami tahu, kau telah bersusah payah menaggulanginya dengan segala macam cara, tapi kami tak percaya sebab Lapindo masih tetap berjaya. Dari porong, lumpur Lapindo meluap, Lautan lumpur lapindo menguasai ku, ucap si porong.

Jakarta, kau kerahkan segenap laskar-laskar pemusnah massal di saat kami mendatangi mu, sehingga teriakan kami pun semakin keras. Sesungguhnya kami hanya ingin menyampaikan keadaan nasib si porong bukan untuk menyepakati perjanjian peperangan yang telah membudaya.

Dari porong, lumpur Lapindo meluap. Panas semburannya melelehkan tubuh ku, ucap si porong.

Jakarta, tolong mengertilah. Kami yang berduyun-duyun datang kemari bukan untuk menyuarakan panji-panji peperangan akan tetapi, kami ingin menyuarakan doa suci.

By. Wong alit

Jangan Lagi Kau Nasehati Ku Dengan Agama Mu

Jangan Lagi Kau Nasehati Ku Dengan Agama Mu

Wahai kau para ulama kekasih Tuhan, bosankah kau memberikan nasehat agama untuk ku. Bibirmu bergerak memberitakan mana yang halal dan yang haram. Bibirmu selalu basah dalam mengajak berbuat amar ma`aruf nahi mungkar. Kau perintahkan aku untuk menyembah Nya, kau beri tahu aku mengenai hari pembalasan.

Sementara kau lihat dengan mata mu, diri ku masih seperi itu. Sementara kau rasakan dengan hati mu masihkah ada harapan atas nasehat mu untuk selalu bergema di segala penjuru.Wahai kau para ulama kekasih Tuhan, masihkah kau memberikan nasehat agama untuk ku.

Ku tahu kau melakukan itu dengan tulus tapi kau tak tahu apa yang aku butuhkan. Bukan atas nikmat ataupun laknat Tuhan mu, bukan untuk pahala ataupun dosa.

Apa yang kau sampaikan tak bermakna dihadapan ku sebab kau memperkenalkan agama mu yang dianugrahkan oleh Tuhan mu... seperti peraturan, larangan, anjuran, tatacara serta ketentuan-ketentuan lainnya. Agama mu begitu mengekang, ucap ku.

Mengapa kau memperkenalkan agama mu kepada ku, mengapa tidak kau perkenalkan Tuhan mu untuk ku. Jangan lagi kau nasehati ku dengan agama mu tapi berilah aku pengetahuan mengenai Tuhan mu yang satu. Wahai kau para ulama kekasih Tuhan masihkah kau memberikan nasehat agama untuk ku

By. Wong alit

Dengan Pakaian Yang Lusuh Dan Bau

Dengan Pakaian Yang Lusuh Dan Bau

Mereka masih berada di tempat ini, tempat yang tak berarti bagi orang lain, ungkap ku. Ku lihat mereka berjuang di jalan-jalan kota berbekal mimik wajah yang memelas bersama anaknya.

Dengan pakaian yang lusuh dan bau mencoba mengetuk hati para durjana.

Terik mentari tak terasa baginya debu dan suara deru mesin menjadi makanan sehari-hari, ungkapnya. Mereka tak merasakan kelelahan sedikitpun sebab dunia mendidik mereka untuk mampu bertahan dalam kesengsaraan.

Dengan pakaian yang lusuh dan bau mencoba mengetuk hati para durjana. Durjana yang selalu berada di istana megah di Istana yang berlapis emas berkilaukan kesombongan hingga Berpijar keangkuhan dan kemunafikan disini. Tempat kami berdiri, bernafas dan bersemayam, ungkapnya. Kilaunya kesombongan dan pancaran pijar keangkuhan telah menutupi pandangan mereka terhadap kami hingga kamipun terpaksa mengambil jalan ini, jalan yang tak berarti mungkin bagi orang lain.

Dengan pakaian yang lusuh dan bau mencoba kembali melangkah. Sembari tersenyum, menapaki jejak-jejak kasih yang masih tersisa dibelantara kedurjanaan umat manusia. Dengan pakaian yang lusuh dan bau mencoba mengetuk hati para durjana.

By. Wong alit

Asap Tembakau Yang Mengepul Diwajahnya

Asap Tembakau Yang Mengepul Diwajahnya

Seorang perempuan berdiri dipojokan kota dengan tembakau yang terselip disela-sela jari manisnya cahaya remang-remang menjadi tempat idola. Malam merupakan waktu yang berharga. Perempuan penjual kenikmatan, bimbang dalam penantian. Penantian kepada mereka yang menginginkan persembahan, persembahan dari kasih tuhan, puji mereka terhadapnya. Namun mereka tak mengerti apa yang diinginkan oleh perempuan pojokan kota. Dengan asap tembakau yang mengepul diwajahnya bersama remang-remang cahaya kota.

Bukan, bukan itu ungkap perempuan pojokan. Kami tak rela hidup seperti ini, namun kami tak berdaya dibuatnya sebab tak ada lagi yang mau mendengar, melihat dan merasakan penderitaan ini. Kedua orang tua, sahabat serta para suami dan kekasih-kekasih, dimana engkau semua berada kala itu.

Dengan asap tembakau yang mengepul diwajahnya bersama remang-remang cahaya kota.

Kau menginginkan keberadaan kami musnah dimuka bumi dengan sekuat tenaga kau kerahkan segalanya agar kami semua mati dan kau bergembira atas semua itu, dengan anggapan bahwa engkau telah berjihad dijalan tuhan mu.

Dengan asap tembakau yang mengepul diwajahnya bersama remang-remang cahaya kota.

Jangan kau berlagak suci dihadapan kami sebab kesucian itu bukan kita yang menilai melainkan Dia lah yang berhak menilai, ungkap perempuan pojokan dalam perjalanan ini. Penyesalan tak akan berguna ungkapnya, walaupun ia sempat singgah di pelabuhan jiwa. Karena semua sudah tak perduli lagi terhadap sesama jadi biarkan kami begini dan jangan kau usik lagi.

Dengan asap tembakau yang mengepul diwajahnya bersama remang-remang cahaya kota.

By. Wong alit

Kenangan Sebuah Desa

Kenangan Sebuah Desa

Nyanyian burung tak pernah berhenti menyambut datangnya cahaya matahari. Cobalah kau tengok desa kami yang asri! Kala malam tiba dan gelap telah menyelimuti, kau akan mendengarkan suara jangkerik bernyanyi, cahaya kunang-kunang ikut menari kesana-kemari membuat kau tak mampu tuk bermimpi.

Itu engkau, saat semua masih peduli tapi kini wajahmu pucat pasi.

Nuansa alami yang selalu akan kau nikmati dari embun pagi yang menghinggapi hingga senja kemerah-merahan yang menanti. Kami, selalu bercengkrama dengannya, disini. Merasakan apa yang dirasakan dengan saling mengerti, ia bak jantung kehidupan bagi kami. Katakjuban yang pernah hadir di hati.

Itu engkau, saat semua masih peduli tapi kini wajahmu pucat pasi.

Eksploitasi besar-besaran terhadap diri mu terjadi, pohon-pohon enggan tuk berdiri kembali sementara udara yang terkandung pun telah terkontaminasi. Desa kami bermurung di atas nisan menunggu mati.

By. Wong alit

Cinta Dalam Ketakutan

Cinta Dalam Ketakutan

Kau berikan pengorbanan mu padanya, kekasih yang bersemayam dalam kesunyian terendam oleh logika sang pendakwa yang hanya menuaikan secercah penyesalan. Sayap-sayap cinta yang menyelimuti perasaan mu perlahan-lahan menebarkan benih-benih rindu, setiap kali kau dan dia bertemu dalam pandangan saat itu juga kau berbicara dalam kegagapan.

Sementara kau lihat sang kekasih merajut cintanya, bukan cinta yang terpendam dalam ketakutan tapi cinta yang berani ungkapkan perasaan di hadapan sang bidadari pemikat rasa.

Kini sepasang kekasih itu melintasi samudera cinta, dengan rasa merdeka menyulam rindu di dada di dalam sebuah perahu terjalin kisah percintaan. Sementara kau masih dalam pelabuhan kesendirian meskipun semua orang tahu kau adalah seorang lelaki pemalu tapi kau tak harus begitu sebab cinta tak bersyarat selalu.

By. Wong alit

Dalam Pikiran

Dalam Pikiran

Keraguan itu mencoba menghampiri saat penglihatan akal berkontraksi terhadap apa yang telah terjadi atas kekacauan disana sini, sementara aku yakin Kau lah kebenaran itu. Kau lah yang tersembunyi dibalik segala sesuatu. Kau lah sumber dari segala eksistensi. Kau, dimana malam dan siang terliputi.

Pemahaman terbentuk seiring perkembangan penglihatan, sementara dunia terus melangkahkan kakinya dan aku melihat apa yang terlewati bersama dunia. Akupun mendengar apa yang telah terdengar oleh dunia.

Saat-saat itu aku dalam suasana delima. Dalam tiap-tiap hari ku, aku penuh tanya sebab aku belajar tentang keyakinan akan kebenaran Mu, namun dunia tak menghendaki akan hal itu. Dunia mencoba mengikis keyakinan ku dengan kebenaran-kebenaran semu yang ia hidangkan, Kemudian menebarkan benih-benih kebencian terhadap kebenaran sejati dan akupun semakin terpuruk dalam fatamorgana pemikiran.

By. Wong alit

Jawaban Pada Lembaran Kehidupan

Jawaban Pada Lembaran Kehidupan

Jawablah dengan kesanggupan mu karena kau diberi kemampuan atas nya, janganlah kau pernah tuk mengundang keraguan, jangan pula kau coba tuk mengenyampingkan nya.

Begitulah caranya pertanyaan-pertanyaan menggoda diri mu, ia datang mengetuk pintu rumah mu meskipun kau tak berada didalamnya, kau akan mendengar bunyi ketukannya. Setiap lembar jawaban yang kau tulis akan ternilai dalam pengetahuan nya bukan oleh mu yang menjawab dan bukan karena banyaknya lembaran yang kau beri.

Tiap detik kau akan menulis atas pertanyaan yang entah kapan berhenti oleh karenanya kau dituntut tuk berusaha, namun jangan pernah kau terayu tuk memandang matahari, jangan pernah terpikiran tuk menghentikannya. Melupakannya tuk sejenak dengan penuh harap, sebab kau tak tahan dihujani dengan pertanyaan. Kau dirundung penyesalan dalam kesia-siaan.

By. Wong alit

Nasib Demokratsi Di Negara Ini

Nasib Demokratsi Di Negara Ini

Demokrasi bersedih, diatas panasnya sinar matahari. Memurung durja dalam anomali kenegaraan sementara Persidangan Dewan tak menuntaskan permasalahan hingga kini demokrasi menjadi topeng yang menyedihkan.

Demokrasi merasa begitu bersalah dalam penghiyanatan para penganutnya. Atas nama rakyat pejabat justru tak mengenal rakyat dengan demokrasi aparat saling berebut kepentingan. Atas nama demokrasi kerusuhan menjadi-jadi, tuntut-menuntut merupakan suatu hal yang lumrah. Meskipun salah tak jadi soal sebab demokrasi kepunyaan rakyat hingga negara ini mengalami ketidaktenangan.

Adanya sifat kemenduaan dari pengagumnya, sebisa mungkin merusak rancang bangun demokrasi membuat demokrasi tak utuh kembali, hingga wajar pengagumnya kembali dipertanyakan.

Tolong pelajarilah kembali wahai pengagum ku, apa yang terkandung dalam rancang bangun ini janganlah kau mencoba tuk memanipulasinya sebab itu bukanlah suatu kehendak demokrasi.

By. Wong alit

Antara Baik Dan Jahat

Antara Baik Dan Jahat

Kau tak sebaik apa yang aku pikirkan sebab kau pembuat onar. Kau tak sejahat apa yang aku pikirkan sebab kau perhatian. Kau adalah sesosok manusia tetapi tidak untuk sesosok malaikat atau juga untuk sesosok iblis.

Kau tetap merupakan sesosok manusia, manusia yang terkadang berbuat kebaikan hingga membuat semua orang bersimpati. Manusia yang sering melakukan kejahatan tak urung semua orang membencinya.

Berpikir mengenai sesosok manusia yang sangat baik atau tentang dia yang begitu jahatnya, hanya menciptakan suatu kemunafikan sebab manusia merupakan tempat kebaikan dan kejahatan.

Manusia yang berusaha tuk berbuat baik atau ia berusaha tuk meninggalkan perbuatan jahatnya. Inilah merupakan pemikiran yang harus terbentuk sebab perjuangan itu berada di setiap detakan jantung

By. Wong alit

Harapan Dan Kecemasan

Harapan Dan Kecemasan

Hari-hari selalu bersedia menemani ku, mengarungi lembah-lembah harapan dari mereka yang berada disana. Ku tahu apa yang mesti kulakukan dengan harapan yang mereka tompangkan demi kehidupan yang mendatang.

Sadarkah kau mengapa mereka begitu? Mengorbankan segalanya demi kehidupan mu dengan maksud agar hidup mu labih baik dari apa yang mereka rasakan saat ini. Mereka jelas sadar mengapa mereka begitu sebab mereka yakin kehidupan ini selalu berubah. Oleh karena nya mereka penuh harapan terhadap mu.

Namun apakah ku tak boleh merindukan mereka? Disaat harapan mereka terhadap ku belum juga terwujud. Begitukah kecemasan yang hadir dalam diri mu yang menghantui perasaan mu hingga membuat mu takut.

Kau tak tahu apa yang kau takutkan dan kau cemaskan tersebut. Karena kau tak tahu doa-doa mereka selalu mengiringi kemana langkah mu.

By. Wong alit

Lalu

Lalu

Wajah-wajah buta telah mengancam menyusup kesegala aspek kehidupan bergerak dalam suasana kegelapan. Sempit, gelap dan keterkukungan melanda pemikiran dalam ruang dan waktu. Tak ada lagi jalan, yang ada hanya kebuntuan.

Bentrokan, kerusuhan sebagai hibah darinya, untuknya dan pemujanya. Seakan semua musuh......... Seakan semua lawan............... Seakan semua salah.............. Seakan dunia ini medan peperangan.

Lalu........ Siapakah wajah-wajah buta itu dan siapa juga pemujanya? Meraka... kamu.... atau saya......

By. Wong alit

Kebenaran

Kebenaran

Seketika Engkau tiba engkau bawa secercah cahaya. Cahaya yang engkau bawa berlahan-lahan padam sehingga kegelapan pun menghampiri ruangan ku. Ku terpaksa meraba segala sesuatu dalam ruangan ini, ketaknyamanan ini kembali ku rasakan.

Keresahan, kebingungan serta gundah gulana mencari dalam kegelapan. Apakah kehadiran Engkau tak ku inginkan? Begitu juga cahaya yang Engkau bawa tak ku harapkan? Engkau hadir dalam ke tak hadiran ku.

Kesadaran yang lenyap, hilang entah kemana? Kegelapan yang selalu mengiringi ruang kehidupan, Apakah kehadiran Engkau dan kehadiran ku berbeda? Di saat Engkau hadir, ku tak merasakan kehadiran itu, namun ku tahu bahwa itu adalah Engkau. Engkau yang membawa cahaya dalam ruangan ku, membuat ruangan ku bersinar terang dan nyaman sehingga kehadiran Engkau dalam kehadiran ku.

By. Wong alit

Penguasa Dan Budak

Penguasa Dan Budak

Disaat bulan mulai menampakkan keindahan bersama malam setia menemani jiwa. Keinginan yang haus akan kemuliaan yang dapat menghasilkan ketakjuban. Dapatkah tercapai semua angan-angan itu yang mampu menyamankan hati dijiwa bagi seorang hamba yang menjadi budak para penguasa.

Kita yang begitu yakin pada mereka yang menjual janji tanpa bukti, begitu manis perkataannya sehingga manisnya menjadi racun bagi semua. Penguasa yang rakus akan kekuasaan, saat ini diharapkan tuk karam disamudera semoga engkau mengerti apa yang diinginkan dari hamba-hamba yang tak rela menjadi budak dari para penguasa-penguasa seperti engkau

By. wong alit

Rabu, 05 Maret 2008

Nasehat Para Pengabdi

Berserah Pada Takdir dan Anugerah
(Bagian Ke Dua) Keinginanmu untuk lepas dari urusan duniawi, padahal Allah membekalimu dengan sarana penghidupan, adalah syahwat yang samar. Sedangkan keinginanmu untuk mendapatkan sarana penghidupan, padahal Allah telah melepaskanmu dari urusan duniawi, adalah suatu kemunduran dari cita-cita luhur. .......... Jika engkau dikaruniai sarana pencaharian yang jelas atau tetap, maka tidaklah beradab kalau engkau berharap penghidupanmu datang kepadamu melalui sarana yang tidak jelas atau tidak diketahui. Sebaliknya, bila kita berada dalam situasi ketika sarana penghidupan kita tidak kita ketahui, maka sikap sopan kepada Allah bukan meminta sarana yang pasti dan berkelanjutan. Menggantungkan diri kepada Allah membutuhkan sikap penerimaan atas kehendak dan cara Nya dalam berikan penghidupan dan pertolongan. Salik yang arif menyandarkan hasil dan sarana pada Sumber kekuatan dan ciptaan. (Ibn `Atha`illah dalam AL HIKAM)

Pesan Terakhir

Terakhir ku berkata, apa yang ada dipikiranmu? Coba kau timbang dengan neraca kemanusiaan adakah nilai-nilai manusiawinya disana! Terakhir ku berkata, disanalah kau akan mengerti, dimana baik dan jahat bersemayam dan pilihanmu akan menentukan. Apakah kau seorang yang jahat atau seorang yang baik.  Terkahir ku berkata, dan kata-kata ku tak perlu kau dengar. Cukup kau pahami hingga kau lihat dan kau dengar. Manusia rusak disebabkan pikirannya. By. Wong alit

Adakah

Adakah kedamaian di dunia ini? Tuan. Tuan! dengarkan pertanyaan kami. Tak perlu, tak perlu tuan jawab sebab kami telah penat mendengar jawaban tuan. Adakah kesejahteraan di dunia ini? Tuan. Tuan! dengarkan pertanyaan kami. Bukan, bukan kami tak percaya namun tuan sendiri yang tak ingin dipercaya. Adakah kebahagiaan di dunia ini? Tuan. Mungkin ini pertanyaan terakhir kami. Tuan, tolong jangan tuan jelaskan. Kami paham, tuan tak memiliki waktu untuk menjelaskannya
By. Wong alit

Sponsor

Daftar di PayPal, lalu mulai terima pembayaran menggunakan kartu kredit secara instan.

IKLAN BLOGGER